Saturday, November 24, 2012

Malam diam, heningnya pejam

Aku tak kenal lagi sore yang dulu
Malam kian panjang saja
Tertatih aku menunggu pagi
Pagi beku meringis, mengiris
Mengantar siang kelabu
Lalu gelap mengintai remang sore
yang belum pun tegak berdiri
terseok rangkaknya dirampas malam

Bochum, 24 November 2012


Friday, November 23, 2012

Sukamantri [2]


hujan sejak pukul tujuh pagi

Mari merayakan hujan bersama keping-keping hidup di Sukamantri, begitu mungkin isi kepalaku saat itu. Kuyup hujan pukul tujuh pagi, kalau sudah begini kami tak peduli. Bocah-bocah kecil sudah ramai sejak tadi, berceloteh di bawah payung warna-warni. Ah, rindu aku meminjam mata mereka, hidup tak banyak perkara, semua serba sederhana. Satu-satu lekat kutatap wajah mereka, ada mimpi dalam sorot mata nan lugu, hidup, penuh energi seperti hujan pagi ini.

Selalu ada yang menarik yang bisa dinikmati sejak pagi. Ramah mentari malu-malu mengintip di celah-celah gemunung, menyeruak halimun yang diam-diam menunggu. Kerlip lampu dari kejauhan samar-samar menari. Rumput masih diam, angin pun masih malas merayu.

Warga Sukamantri selalu punya cara sendiri untuk merayakan hidup. Walaupun harus melewati sudut-sudut gang yang sempit, namun selalu ada karnaval meriah setiap bulan Agustus. Lapangan yang tak seberapa luas di samping Masjid Miftahul Huda selalu ramai saat hari kemerdekaan tiba, pun tak kalah meriah menyambut dua hari raya. Kalau musim hujan tiba, selokan kami sering sekali meluap, jalanan menjadi becek. Namun jarang kudengar orang bertengkar karena harus bergantian melintasi jalanan tergenang. Kendaraan dari arah berlawanan harus saling mengalah karena kelok-kelok jalan yang sempit. Di sana mereka berbagi di tengah keleluasaan yang serba sedikit, secarik bahagia yang sederhana.

Di salah sudut gang, seorang pengemis setia menengadah dengan kaleng lusuh berkarat. Belum menggerincing kalengnya pagi ini, tatapnya lesu. Aku paling tak betah bertemu pengemis, serba salah. Pulang-pulang pasti aku akan mengutuk dalam hati. Antara mengutuki diriku sendiri, atau mengutuki sang pengemis. Belas kasihan itu fitrah manusia, tapi mengemis juga tak baik. Pengemis di sudut jalan itu masih segar bugar, tak malu apa dia dengan nenek penjual surabi di depan Pasar Suci, kutukku dalam hati. Kalau aku mengabaikannya: ‘Tak punya belas kasihan!‘, kutukku lagi kepada diriku sendiri. Sungguh tak senang hatiku dihadapkan pada perasaan campur aduk seperti ini.

Ah sudahlah, mari kuceritakan soal perasaan yang lain, milik manusia-manusia di Sukamantri. Bandung telah lama menjadi salah satu tempat tujuan belajar bagi pemuda-pemudi dari pelosok Nusantara. Dari sana muncullah hubungan unik dalam simpul-simpul masyarakat urban kaum pendatang dengan kaum pribumi. Entah berapa ratus rumah sewa dan kamar-kamar kos mahasiswa yang berbagi jengkal-jengkal tanah di Sukamantri, yang umumnya dimiliki juragan-juragan kos pribumi. Ada keterkaitan yang unik antara pemilik kos dan para penyewa petak-petak bangunan ini. Walau sering kudengar gerutu mahasiswa mengeluhkan harga sewa, namun selalu ada persaudaraan yang tulus di sana.

Aku senang menghabiskan sore di salah satu warung nasi di sudut Sukamantri. Ibu pemilik warung nasi ini juga menyewakan beberapa kamar kos untuk mahasiswa. Binar matanya jika kuminta bercerita tentang anak-anak kosnya zaman dulu, ketika Bandung belum musim macet, ketika pohon-pohon rindang di jalan Surapati masih berderet-deret. ‘Dulu mah Neng, anak kos Ibu ada yang suka sekali Ibu masakin oncom, padahal orang Sumatera. Sekarang katanya sudah jadi orang hebat di Jakarta. Kalau hari raya, tak pernah lupa dia menelpon Ibu dari kampung halamannya.‘ Nostalgia sederhana seperti itu selalu menyenangkan untuk dikenang.


Sore yang damai di Sukamantri
Bapak kos kami baru saja pergi. Tengah malam di awal musim gugur tahun ini dering HP membangunkanku, sebait pesan dari sahabatku satu kos dulu mengabarkan berita sedih ini. Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Pak Selam, salah satu tokoh masyarakat Sukamantri, bapak kos kami yang baik hati. Kubayangkan harum sajadah Masjid Miftahul Huda, masjid wakaf beliau, mengiringi duyun masyarakat Sukamantri mengantar jenazah beliau ke tempat peristirahatan terakhir. Sedih aku jika terkenang obrolan kami di suatu pagi. Saat itu beliau memang sudah sakit, aku bercerita pada beliau tentang mimpiku untuk sekolah lagi. Antusiasnya tak pernah hilang walaupun aku tahu beliau sudah tak sesehat dulu. Terima kasih Pak, telah menjadi ayah untuk kami, semoga Allah merahmati engkau.

Di sudut-sudut gang Sukamantri, di pinggir-pinggir gerobak pedagang nasi, di setiap gesek sepatuku menyusuri gang setiap pagi, di sana kutemui pelajaran hidup berharga. Kisah tentang kesederhanaan, persaudaraan, peluh-peluh perjuangan dan keindahan hidup di tengah keterbatasan. Mereka yang telah menyediakan ramah keluarganya untuk kami, mereka yang telah memasak makanan untuk perut-perut lapar kami, mereka yang telah mengiringi langkah-langkah kecil kami mengejar mimpi. Kepada mereka, kami tak pernah bisa membalas butir-butir kebaikan yang telah tercurah seperti hujan hari ini, yang tak juga hendak  berhenti sejak pukul tujuh pagi.

Bochum, 23 November 2012
[Tamat]

Friday, November 16, 2012

Sukamantri

kampung kecil yang ramai sejak dini hari


Laju roda menggilas jalanan tak rata sejak pagi buta, menyusuri gang-gang sempit di antara pemukiman padat di jantung kota. Entah berapa nyawa yang berbagi hidup di antara petak-petak rumah yang rata-rata tak berpekarangan ini. Para perantau yang mengadu nasib, pribumi-pribumi “tersingkir“ atau barangkali anak-anak muda yang jauh-jauh datang berbekal mimpi. Entah mimpi apa pula, nekat mungkin lebih tepatnya.

Sebagian besar para pengadu nasib dari negeri-negeri jauh ini mengais rezeki dengan berniaga. Riuh tawar-menawar memecah hening bahkan sebelum matahari memulai pagi. Pedagang tumpah ruah meniagakan hasil bumi Priangan yang tersohor karena kesuburannya. Becek dan pengap menguap dari kios-kios sempit di Pasar Suci yang ramai sejak dini hari. Kalau sedang “beruntung“, bau sampah menyeruak dari timbunan di sebelah timur pasar. Kumuh, serba tak teratur dan kotor, begitulah kesan ketika pertama kali kuinjakkan kakiku di kampung ini. Sukamantri, sebuah kampung di jantung kota Bandung, yang geliatnya tak pernah padam hingga hari ini.

Di salah satu petak bangunan di Sukamantri inilah, kuhabiskan 7 tahun hidupku mengenal berupa-rupa manusia. Kampung kecil kami ini seperti miniatur Indonesia, menampung masyarakat kelas menengah ke bawah dari berbagai etnik seluruh Nusantara. 

Aku tak paham, mengapa orang rela menukar kedamaian di kampung halamannya dengan riuh ibu kota, bergelut dengan asap kendaraan, sampah, dan debu jalanan. Kalau aku pandai melukis, mungkin tak habis-habis kanvas kucorat-coret untuk menggambarkan kekagumanku pada keindahan hidup di kampung ini. Bait-bait cerita selalu berkisah tentang hidup manusia, ya tentang hidup dan perjuangannya, bukan tentang kematiannya. Di sana, kutemukan keindahan yang kudefinisikan sendiri di kepala pemimpiku yang bebal ini.

Mari kita mulai cerita ini dari kisah pedagang sate. Mengapa pedagang sate? Karena, dia lah sang pemecah hening pertama, berteriak-teriak di malam buta. Wangi asapnya hinggap dari celah-celah jendela, membangunkan perut-perut lapar anak-anak muda yang hobi menukar malamnya dan baru tidur menjelang pagi. Malam demi malam, roda gerobak sang pedagang sate berkelok-kelok mencari pembeli, menjemput rezeki dalam hembus angin dingin hingga dini hari. Sesekali di sudut-sudut gang, pedagang sate akan berpapasan dengan pedagang sekoteng, bandrek dan bajigur, minuman hangat khas tanah Sunda. Gerobak pedagang sekoteng juga tak kalah gesit menyusuri gang-gang sempit Sukamantri, membawa toples-toples berisikan air gula merah, santan, roti dan rupa-rupa bahan racikan lainnya.

Malam makin larut, pekatnya berganti remang dan pagi sudah menunggu. Satu per satu gerobak pedagang sarapan dikeluarkan oleh pemiliknya, pedagang bubur, nasi kuning, kupat tahu, lontong kari, surabi, roti dan aneka rupa menu sarapan pagi. Makanan adalah salah satu penemuan manusia yang tak ada habisnya. Aku juga tak paham, dari mana, sejak kapan dan siapa yang pertama kali menamai makanan-makanan ini dengan nama-nama yang khas, bahkan kadang-kadang aneh.

Hening pagi di Sukamantri

Di sudut gerbang gang Sukamantri, teronggok kios kecil kedai kopi, buka tepat pukul 6 pagi dan baru tutup hampir tengah malam. Pemiliknya orang Jawa yang sudah ke Sunda-sundaan, terlalu lama merantau mungkin. Kedai ini menyediakan bubur kacang hijau, mie instan modifikasi dan tentu saja kopi. Pemiliknya ramah dan paling betah meladeni penarik becak yang kerap singgah bersama makelar-makelar dadakan dari Pasar Suci, mengobrol ini itu dari mulai sepak bola sampai politik negeri ini. Lucu sekaligus ironis.

Menjelang siang, berganti-ganti gerobak pedagang parkir di sudut-sudut gang. Kali ini giliran pedagang buah, dan warung-warung nasi. Lepas tengah hari, warung ini ramai dikerubungi pembeli, rata-rata anak kos yang jauh-jauh merantau hanya untuk menjadi mahasiswa. Kata “maha“ yang begitu berat harus dipikul oleh pundak-pundak anak-anak muda ini, yang terkadang lupa akan ke“maha“annya. Bertahun-tahun kemudian mereka entah jadi apa, ibu-ibu pemilik warung nasi ini tak pernah tahu, tak lebih tahu dari mereka sendiri.

Bochum, 16 November 2012
[Bersambung]

Saturday, November 10, 2012

Manusia Laut

sebuah identitas budaya masyarakat pesisir Belitong



Teks oleh: Hesty Susanti
Foto essay oleh: Ponda Sujadi

170an mil di selatan lingkar khatulistiwa, dimana matahari menepati janjinya mengukir senja yang sama sejak bumi ini ada. Di sana, di perairan Nusantara, tersebutlah sebuah pulau tropis yang dianugerahi keindahan pantai-pantai berpasir putih dan hasil laut berlimpah. Belitong, demikian masyarakat lokal menyebut kampung halaman mereka.

Pukul setengah enam sore, langit sebelah barat merona jingga, matahari beranjak pulang. Senja adalah pertanda alam menutup hari, ketika sebagian besar orang mengakhiri aktivitas utama mereka sejak pagi. Namun, bagi para nelayan pesisir, saat senja merekah adalah saat bagi mereka membuka hari, menjemput rezeki di tengah samudera.

Perahu-perahu dikayuh menuju lautan luas. Mesin-mesin dinyalakan, meraung-raung menantang gelombang. Saat angin sedang bagus, para nelayan ini akan menghabiskan sepanjang malam di atas perahu, menyusuri mil demi mil perairan Belitong demi mengumpulkan hasil laut sumber nafkah utama bagi mereka.

Menjelang pagi, perahu-perahu nelayan merapat ke dermaga. Para “perae“ telah menunggu untuk membeli hasil tangkapan para nelayan. Ada pula yang memilih menjual langsung ke pelelangan atau perusahaan perdagangan yang akan mengemas ikan-ikan segar ini dalam kemasan beku untuk dikirim ke Pulau Jawa atau diekspor ke luar negeri. Sebagian lagi mengolah hasil tangkapan mereka menjadi ikan asin untuk konsumsi pasar lokal maupun luar daerah.

Turun-temurun nelayan tradisional pesisir Pulau Belitong, baik suku Sawang, Melayu maupun Bugis, menjelajah samudera berbekal perahu “kater“, perahu motor maupun bagan. Laut bagi mereka ibarat ladang bagi petani, yang menjadi tumpuan hidup bukan hanya untuk saat ini, namun juga bagi generasi-generasi selanjutnya.

Rangkaian rantai ekonomi yang saling berkaitan ini telah membentuk suatu identitas budaya. Kehidupan masyarakat pesisir Pulau Belitong sangat bergantung pada laut. Laut adalah hidup, kebanggaan dan harga diri mereka. Identitas budaya ini memiliki keunikan berpadu dengan potensi keindahan pantai. Sebuah potensi pariwisata yang sangat menjanjikan jika dikelola dengan bijaksana, tentu saja dengan tetap memperhatikan aspek-aspek kelestarian lingkungan dan budaya lokal. Kearifan memanfaatkan alam menjadi tantangan bagi generasi Belitong saat ini.

Di saat potensi pariwisata Belitong didengung-dengungkan di berbagai media lokal, nasional bahkan internasional, sekonyong-konyong rencana beroperasinya kapal hisap di perairan Belitong datang bak petir di siang bolong. Bagi masyarakat Belitong, ini adalah masalah pilihan hidup. Memilih untuk diam dan membiarkan laut mereka rusak atau memilih menjadi arif mempertahankan kelestarian alam yang sudah diwariskan kepada mereka. Pengoperasian kapal hisap ini tentunya hanya akan mendatangkan keuntungan sesaat, itu pun tentu saja keuntungan bagi segelintir orang terutama para pengusaha dan pemerintah yang kongkalikong menjual kampungnya sendiri.

Kerusakan laut akibat beroperasinya kapal hisap bukan hanya isapan jempol. Peneliti dari Universitas Bangka Belitung melaporkan, dari penelitian pada 30 titik wilayah perairan Pulau Bangka dan Belitung sejak 2007-2010, sekitar 50 persen terumbu karang mengalami kerusakan akibat tertutup lumpur sebagai dampak beroperasinya kapal hisap dan TI apung (tambang inkonvensional) serta diperparah oleh aktivitas pengeboman ikan [*]. Ribuan nelayan menjerit mengeluhkan hasil tangkapan mereka yang kian menurun dari hari ke hari.

Kalau kerusakan laut sudah nyata-nyata di depan mata, jangan berbicara lagi tentang pariwisata. Identitas budaya tadi secara perlahan akan hilang. Pemeran-pemeran hidup dalam foto-foto ini hanya akan menjadi kenangan masa lalu yang hilang dilupakan zaman. Pada akhirnya Pulau Belitong tinggal menunggu hari menuju kehancuran. Lalu pertanyaan terbesar yang harus kita jawab adalah: “Apa yang tersisa untuk anak cucu kita?“

Bochum, 10 November 2012


Seorang anak nelayan Tanjung Kubu sedang bersiap-siap melaut pada suatu sore
Nelayan tradisional Tanjung Kubu berangkat melaut menggunakan perahu “kater“ 

Perahu-perahu nelayan di perairan Tanjung Kubu

Para nelayan Tanjung Batu sedang membangun jembatan untuk memancing


Nelayan-nelayan Tanjung Batu pulang memancing

Seorang pedagang pengumpul (atau “perae“ dalam bahasa lokal) sedang menuju dermaga menunggu hasil tangkapan para nelayan

Proses pensortiran ikan di salah satu perusahaan pengekspor di Tanjungpandan

Seorang nelayan di desa Air Saga sedang memperbaiki perahu


Proses pengeringan ikan asin di desa nelayan Tanjung Binga


Perahu-perahu nelayan Batu Itam bersandar saat laut sedang surut



Anak-anak nelayan Batu Itam mencari kerang (atau “keremis“ dalam bahasa lokal)


Perahu  nelayan bersandar di pantai Air Saga saat laut sedang surut


Nelayan pulang memancing di pantai Tanjung Pendam


Perahu motor menuju Pulau Selat Nasik


Perahu motor di Pelabuhan Tanjungpandan menuju Pulau Selat Nasik


Perahu nelayan dari kejauhan di perairan Tanjung Ru’ Pegantongan


Seorang nelayan Dendang sedang mengayuh perahu


Nelayan Tanjung Binga berangkat melaut menggunakan perahu sederhana


Seorang nelayan sedang melakukan proses pengeringan ikan asin di desa Tanjung Binga

Saturday, November 03, 2012

Aku ketika Tua [2]


Temaram beranda tersiram purnama, sesekali serangga malam singgah mencari cahaya. Kita hanyalah bayang-bayang samar menuju malam. Di antara rumpun-rumpun gelagah di kaki bukit sana, dulu pernah kau bercerita. Ada nelayan paruh baya, terampil dia membuat perahu. Dia tak pernah sekolah, tapi mahir membaca gugus bintang, haluan satu-satunya saat dia berada di tengah samudera.

Katamu, belajar itu sederhana saja. Mimpiku dulu tak muluk-muluk, kau juga. Toh sekarang dalam damai yang sederhana, sudah lebih dari cukup kita habiskan usia senja kita. Aku menulis, kau membaca. Kau melukis, aku bersenandung saja. Entah berapa sore lagi yang tersisa untuk kita di beranda ini. Tak banyak tanda, tahu-tahu telah lewat satu minggu, satu bulan, satu tahun, dan kita pun semakin menua.

Obrolan kita tak jauh dari kata "dulu", dan selorohmu menertawakan kebodohan-kebodohan masa muda kita. Suatu waktu kau berkata, katamu kau ingin melihat ujung dunia, entah dimana. Ujung dunia? Saat nafas-nafas manusia seperti meniti hati-hati di pinggir jurang desing peluru? Atau, saat sunyi mengendap lamat-lamat di tepi-tepi jurang gemunung tengah benua? Kakiku pernah ke sana, kau juga. Lalu kita tersenyum bangga atas pencapaian konyol sepanjang masa.

Besok kalau ada waktu, aku ingin merombak perpustakaan kita. Rak buku kita juga sudah menua. Kata anak-anak di sekolah Pak Cik, mereka ingin menghabiskan libur Ramadhan di perpustakaan kita. Siap-siap lah kau hibur mereka. Kalau musim sedang bagus, akan kuajak mereka ke hutan mencari cendawan atau boleh kau ajak mereka memotret senja di ujung muara.

Tahun depan, muridku dulu hendak berlibur ke sini katanya. Musim panas ini, dia akan pulang membawa oleh-oleh dari negeri sakura, rampung sudah studinya setelah 5 tahun yang penuh warna. Satu persatu muridku menjelajah dunia, kini kutahu apa itu rasa bangga di hati seorang guru. Bagaimana kabar sahabatmu dulu? Masih sering dia mendaki gunung? Satu persatu pula sahabat terbaik mendahului kita, kita pun menunggu giliran tiba.

Semalam aku bermimpi melihat ladang gandum luas tak bertepi, sudah kuning kecoklatan menunggu panen raya. Lalu kita berubah kembali muda, tiba-tiba seekor elang terbang labuh ke arah kita. Matanya mengancam penuh selidik. Pertanda apa, entahlah. Aku ragu, apakah tahun depan masih ada untuk kita? Mungkin potret kemarin sore di dermaga itu, bayang terakhir kita.

Bila aku mendahuluimu, aku ingin kau teruskan tulisanku tentang rumah hari tua, naskahnya sudah kusimpan rapi di komputer kita. Pun bila engkau yang mendahuluiku, akan kuteruskan petualanganmu menyusuri kampung pesisir setiap senja. Merangkai potret diam namun pandai bercerita, lalu kutulis kisah bahwa aku bangga pernah dipertemukan dengan seorang manusia, kau...

Bochum, 4 November 2012
Photo illustration by Ponda Sujadi
[Sambungan dari tulisan pertama: http://maktjik.blogspot.de/2012/11/aku-ketika-tua.html]

Aku ketika Tua


Pokok-pokok cengkeh berjajar di tepi padang rumput, ilalang bergoyang lembut disapa angin, di bukit ini rumah kita, sederhana saja, panggung kayu beratap rumbia. Di beranda ini kita habiskan sore, berbincang tentang nostalgia, sambil menyeruput kopi hangat, lalu kucing kita bermanja-manja tak hendak lepas dari pangkuan. Kalau hujan tentulah aku yang akan lebih berbahagia, carik-carik kertas nampaknya akan lebih banyak tergores tinta, besok saja kita berburu senja.

Coba kau lihat di ujung muara, perahu itu pun hanya tergolek ditinggalkan tuannya, cuaca sedang tak berpihak pada kita. Kalau besok cerah, kutemani lah kau mencari angin. Dulu waktu kita masih muda, pernah kau bercerita tentang layang-layang yang sekonyong-konyong putus dari talinya, pemiliknya entah siapa. Kapan-kapan boleh kau ajak anak-anak bermain layang-layang di pekarangan kita.

Besok sudah hari Jumat, sebentar lagi musim anak-anak libur sekolah. Sholatlah di Surau, sementara aku ingin menghabiskan sisa hari di sekolah Pak Cik. Minggu lalu anak-anak bertanya tentang persoalan aljabar sederhana, kupenuhi janjiku besok. Sebenarnya aku hanya ingin bercerita saja pada mereka. Lalu jemputlah aku menjelang pukul empat, lepas Ashar kita ke dermaga saja, naik sepeda. Barangkali saja senja besok itu senja milikmu, seperti tempo hari. Silhoutte perahu nelayan kapan hari itu jadi kesayanganku hingga hari ini. 

Tiba-tiba kita terdiam, dan aku bertanya memecah bisu: "Pernah kau menyesal tentang masa muda?" Katamu, "Ah, untuk apa? Toh, hari tak akan bergerak mundur. Kau mau habiskan sisa umurmu di sini saja aku sudah bahagia". "Ya sudah, hari sudah sore, jangan lupa kau tutup pintu kandang ayam kita, sementara aku menyalakan lampu pelita. Nanti malam lepas mengaji, kita makan di beranda depan, bulan sedang purnama, tak kalah cantik dibanding senja di dermaga".

Bochum, 3 November 2012
Photo illustration by Ponda Sujadi
[Bersambung ke tulisan ke dua: 
http://maktjik.blogspot.de/2012/11/aku-ketika-tua-2.html]

Surat kepada Kawan

Hujan baru berhenti menyisakan jalan setapak basah yang dipenuhi dedaunan merah kekuningan. Langkahku sedikit terseok demi menghindari genangan air sambil memanggul ransel yang sedikit berat. Hari masih sangat muda, mendung menggelayut rendah disertai hembusan angin dingin, musim gugur sudah menghampiri kami. 

Stasiun sudah ramai oleh lalu lalang manusia. Kawan, hidup ini tak ubahnya penumpang di stasiun kereta, masing-masing menunggu gilirannya tiba.

Kereta yang membawaku melaju meninggalkan kota kecilku, Bochum. Kota kecil yang telah membuatku jatuh cinta akan kesederhanaannya. Dulu, dulu sekali, Bochum dan kota-kota lainnya di sepanjang Sungai Ruhr adalah kawasan pertambangan dan industri berat. Berpuluh-puluh tahun kawasan ini berkarat karena beban kerusakan lingkungan. Sungai-sungai tercemar, polusi udara menjadi-jadi. Tapi, semua itu tinggal kenangan menyisakan romantisme nostalgia masa lalu untuk dijadikan pelajaran berharga bagi generasi selanjutnya.

Saat ini, area-area bekas tambang dan industri tersebut dijadikan kawasan-kawasan konservasi dan museum-museum yang menarik perhatian wisatawan dari seluruh dunia. Musim panas yang lalu, sempat kukunjungi beberapa industriekultur di Ruhr area. Butuh waktu berpuluh-puluh tahun dan biaya yang tidak sedikit untuk mengembalikan keseimbangan alam yang terlanjur rusak. Itu pun tak akan pernah kembali seperti semula.

Kereta yang membawaku terus melaju memasuki daerah Bavaria. Rumah-rumah petani di tepi ladang nan hijau berkerumun di sela-sela bukit tepian sungai. Daun-daun mulai menguning kemerahan, melukis keindahan khas musim gugur. Aku dilahirkan jauh di negeri tropis, diasuh lembut hawa hangat sepanjang tahun. Pulau kelahiranku ibarat mimpi-mimpi keindahan dunia yang mendayu-dayu. Pantai perawan berpasir putih, sejauh mata memandang hanya laut biru, gemuruh ombak menghempas saling beradu, hasil laut melimpah ruah. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing dipermainkan ombak. Senja mengantarkan mereka dalam harmoni, dipeluk malam nan syahdu. Di sana kutinggalkan jejak-jejak masa kecilku, kurajut cita-citaku hingga hari ini.

Pulauku telah menderita sakit yang berkepanjangan. Namun, seperti tak habis-habis beban yang selama ini telah membuatnya berkarat dan terluka. Ancaman datang silih berganti di darat dan di laut. Perkebunan kelapa sawit berhektar-hektar, lubang-lubang menganga bekas tambang telah merenggut berhektar-hektar pula kawasan hutan yang seharusnya dilindungi. Kabar buruk lain kini berhembus sampai ke telingaku. Dari jendela kereta, tatapanku menerawang jauh, hatiku gundah.

Kubayangkan kapal-kapal hisap nan serakah akan mengeruk laut kami, menyisakan keruh air mata. Tak akan ada lagi laut biru tempat nelayan-nelayan kami nan berani menggantungkan periuk belanga keluarganya. Awan hitam bergumpal-gumpal menggiring mimpi buruk dari tanah seberang, Pulau Bangka yang sudah terlanjur luluh lantak oleh tangan-tangan celaka.

Wahai Kawan, semua keindahan ini hanya titipan Tuhan. Tak adalah hak kita untuk menjadi rakus tak terkendali. Tak belajarkah kita dari sejarah yang sudah-sudah, tak ada kesudahan yang baik bagi tangan-tangan serakah. Wahai tangan-tangan celaka, jangan kau renggut tanah dan laut kami. Di sanalah hidup, kebanggaan, dan harga diri kami.

Tangan-tangan kecilku meraba-raba kerang di sepanjang pantai. Mentari mulai beranjak ke peraduan, sinarnya menyilaukan. Kulihat silhouette perahu-perahu nelayan di kejauhan. Bayang-bayang masa kecilku saling beradu di balik jendela kereta. Pantai-pantai di pulau kecilku tak banyak berubah dan aku ingin tetap mengingatnya seperti itu, indah dalam kesederhanaan yang akan kami wariskan hingga anak cucu nanti.

Lima jam berlalu, keretaku tiba di stasiun terakhir, Erlangen. Lalu lalang manusia tak kuhiraukan lagi. Mataku basah karena rindu sekaligus gundah. Aku bukanlah siapa-siapa, tapi rasa cintaku kepada tanah kelahiranku tak perlu kau pertanyakan lagi, Kawan. Kutitip doa dan rindu untuk mereka yang berjuang dengan harapan yang tak pernah padam untuk menjaga pulau kami. Selamat berjuang!

Sejauh mata memandang hanya laut biru
membentang, kurentangkan kedua tanganku
angin penuhilah paru-paruku
ingin kuhabiskan hariku di atas perahu
terombang ambing tak peduli melawan waktu
gemuruh ombak, bawa aku pulang ke laut biru

Bochum-Erlangen, musim gugur 2012


Perwakilan Bangsa-Bangsa

Gadis Rusia tetangga sebelah semakin hari semakin menjadi perokok berat, tak pernah kulihat wajahnya pagi-pagi sudah sekusut itu. Pernah suatu malam aku terbangun hendak ke kamar kecil, kuperhatikan dia merokok sambil murung di balkon. Apa yang sedang dipikirkannya di malam selarut itu, atau kalau tidak, sudah bisa kusebut pagi buta. Lucunya tetangga baru sebelah kamarnya adalah seorang dokter berkebangsaan Syria. Dokter Syria itu bernama campuran barat & Arab, baru pertama kukenal orang Arab beragama Nasrani, dan dia selalu bangun sejak dini hari. 

***

Di kamar ujung sebelah utara ada pula gadis Israel, keyboard laptopnya pun berhuruf Hebrew, dengan takzim dia mengenalkan diri & mengucapkan salam, tak kusangka dia seorang Muslim. 

***

Ada lagi nona-nona asal Korea, pintar sekali memasak & baik hati, dia tak berbahasa Inggris, hanya Korea & Jerman dengan pelafalan yang harus kudengar dengan seksama. Oiya kami juga punya wakil baru, seorang gadis peranakan Jerman-Kenya, wajahnya campuran seperti Obama, fasih Inggris, Jerman & Swahili, cerdas penuh inisiatif.

***

Gemerosok timbul tenggelam suara radio dari negeri jauh di seberang samudera, sayup-sayup kudengar percakapan asing dari ruang tengah, gadis Finlandia itu kah?

***

Aku menemukan diriku tenggelam dalam pusaran berbagai budaya yang begitu deras. Kudengar berbagai bahasa dari penutur aslinya. Jiwa mudaku begitu menikmatinya.

Bochum, musim gugur 2012

Sebagian tetangga selantai, dari kiri ke kanan: Korea, Syria, Malaysia, Finlandia, Israel, Uganda, Jerman-Kenya, Jerman-Rusia, Jerman, Jerman, Jerman. 4 orang lagi yang tidak hadir berasal dari Rusia, Thailand, India dan Jerman

Debat dua Purnama

kita selalu meributkan apa saja,
tentang hangat yang tak kunjung betah berlama-lama,
tentang hujan yang sering menyapa tiba-tiba.

kita pernah berdebat tentang apa saja,
tentang pilkada ronde kedua,
tentang tangan-tangan serakah di kampung kita.

kita boleh bertengkar tentang apa saja,
tentang harga beras yang tak pernah mengiba,
tentang nasib nelayan musim purnama.
tapi aku tak mau kita berdebat tentang cinta,
juga tentang cita-cita, itu saja...

Bochum, 19 September 2012


Rinai Hujan bulan September

Rinai hujan ditiup angin tenggara. Mendayu-dayu bisiknya mencumbui daun-daun maple merah muda. Sayup-sayup badai bergemuruh, jauh, tapi belum ingin mereda. Jendela kaca basah berinai-rinai disiram matahari sore.

Lalu bisu mengendap lamat-lamat dalam hitam pekat awan bergumpal-gumpal. Menyusup angin dari celah-celah, dingin mengiris. Musim berganti. Suatu waktu helai-helai kekuningan gugur menciumi tanah basah. Membusuk, tapi tak lantas hina. Suatu waktu ranggas seolah mati dalam beku.

Lalu pelan-pelan mereka memeluk akar, pokok dan ranting-ranting. Sampai musim menghangat tahun depan, ketika helai-helai itu berebut mengait di ujung ranting. Diam seribu diam, sabar seribu sabar, tekun merenda-renda. Lewat musim-musim, begitulah alam mengajar dalam seribu peribahasa.

Bochum, 19 September 2012


Bulan Hampir Separuh

Hari-hari di awal bulan September adalah hari-hari ketika siang mulai memendek. Musim panas hampir usai, sesekali kami masih bisa menikmati bonus matahari walaupun tak sehangat matahari bulan Agustus. Beberapa helai daun mulai menguning, musim gugur hampir tiba. Kunamakan saja musim ini musim terang, karena durasi siang masih relatif panjang dibandingkan di wilayah khatulistiwa.

Bulan ini adalah bulan perpisahan. Aku bangun pagi-pagi sekali seperti biasa. Namun ada yang sedikit berbeda, sarapan pagi itu adalah sarapan terakhirku bersama sahabat baruku di sini. Waktunya sudah tiba, dia harus kembali ke tanah air. Pertemuan yang tak lama, 6 bulan saja, namun kuanggap istimewa. Sahabatku Dwenda, yang 5 tahun lebih muda, wanita yang cerdas, ceria dan multitalenta. Semoga suatu hari kami bisa bertemu lagi.

***

Masih ingat hari-hari pertama bulan November tahun lalu? Pertemuan pertamaku dengan seorang wanita muda, cerdas dan baik hati. Ya, dia sahabatku, Moni. Bulan ini pun waktunya kami berpisah. Pagi itu dia tak nampak lagi di kantor, biasanya dia adalah orang pertama yang hadir di kantor kami, tak peduli mau musim apa, di tengah winter yang dingin menusuk sekalipun dia selalu datang paling pagi. Mejanya sudah tampak kosong, hanya tersisa satu dua bundel file.

Di mejaku tergeletak sebuah buku dari Moni, buku disertasinya yang sengaja dia tulis dalam bahasa Inggris. Kubuka halaman pertama, disana terangkai tulisan tangannya:

"Dear Hesty, It's been a pleasure to meet you. I hope you enjoy the rest of your stay here and accustomed with the cold weather in Germany. Ich drücke dir die Daumen für die Promotion! :)"

Ah, Moni, senang rasanya bisa mengenal orang sepertimu. Kubuka lagi beberapa halaman berikutnya. Aku tahu, nanti aku akan merindukanmu. Kau orang pertama yang kukenal di negeri ini. Orang pertama pula yang rela membantuku sejak pagi buta sampai larut malam di minggu-minggu pertama kedatanganku. Pun, kau juga orang pertama yang mengajarkanku banyak hal di laboratorium.

Pagi itu, matahari baru sepenggal galah, sinar hangatnya menyirami bukit-bukit berkabut di selatan kampusku, bukit-bukit hijau tempat petani berladang di musim panas. Sesekali berkerumun domba dan kuda-kuda. Kulihat bulan hampir separuh, malu-malu mengintip dari balik gedung Matematika. Di sebelah barat bergumpal-gumpal awan serupa bulu domba, sisa hujan kemarin petang. Pagi yang istimewa utuk mengenang para sahabat, dan tak terasa hari-hari berlalu begitu cepat. Aku berhenti sejenak memandang lepas ke kejauhan, kuhirup nafas dalam-dalam. Tiba-tiba aku merasa bersyukur telah dipertemukan dengan mereka, sahabat-sahabat yang istimewa.

Bochum, 5 September 2012


Pulang [2]

Hari ini hari raya
Aku ingat riuh orang-orang di pasar dalam
dan gelung-gelung janur hijau muda
Lalu, wangi asap mengepul pelan-pelan

Hari ini hari raya
Aku ingat kue berupa-rupa dalam toples kaca
dan masakan khas hari raya
Lalu, meja dihias berenda-renda

Hari ini hari raya
Aku ingat wangi sarung dan mukenah
dan sandal jepit berdecit-decit di pagi buta
Lalu, kumandang takbir menyemesta

Hari ini hari raya
Kutitip rindu untukku, untuk kita
dan semua kenangan tentang hari raya

Utrecht, 1 Syawal 1433 H/ 19 Agustus 2012


Pulang

Wahai awan
Kusampaikan salam rinduku
Pada serakan sampah di pinggir jalan
Pada debu yang menempel di kaca-kaca

Wahai angin
Kutitipkan salam rinduku
Pada serpihan pasir putih
Pada riuh yang memecah pagi di pasar ikan

Kutinggalkan jauh engkau, sayang
Biar aku belajar mencintaimu
Biar aku tahu getirnya rindu
Biar kutunggu nasib memanggilku
Nanti aku akan pulang

[Untuk Indonesiaku]
Bochum-Groningen
Jumat, 17 Agustus 2012/ 29 Ramadhan 1433 H


"Jika engkau sudah muak, semuak-muaknya dengan negerimu sendiri, cobalah merantau dan tinggallah di negeri orang barang sebentar, niscaya akan engkau temukan kembali rasa cinta dan kerinduan yang amat mendalam pada tanah kelahiranmu."


Dia

Ada bayang-bayang diam menjelma. Sayup-sayup terdengar memanggil-manggil, siapa? Aku pun berhenti sejenak mencoba menerka, oh dia rupanya. Ku sambut dia di ambang pintu, kuusap peluhnya, lalu kutanyakan kabarnya. Kami bercerita hingga senja, dan hujan pun mereda menyisakan gerimis tipis. "Kau mau kemana lagi?" kutanyakan padanya. Dia diam saja, tapi kulihat senyum tersungging di balik payungnya. Gores di punggung tangannya masih sama, dan dia..., aku sendiri yang telah kutunggu sejak lama.

Bochum, 24 Juli 2012


Senja Musim Panas

Rindu, rindu aku pada senja nan lekas berlalu
Rindu, rindu aku pada hujan nan berderai lalu

Lalu, dibisikkannya pada angin
Rangkullah semi ini dalam semilir
Menyemai pada dedaun hijau muda
Bunga-bunga, juga akar-akar perindu

Senja, pada lembayungnya pelukis petang memburu
Memeluk malam, diam, syahdu
Lalu, kerlip gemintang segenap mengharu
Rindu, rindu aku pada senja nan lekas berlalu

Bochum, musim panas, 5 Juli 2012


Monolog Senja

Senja mengantarkan siang ke peraduan
Dahan-dahan memilih diam
Sesekali melambai dibelai angin
Pipit masih asyik menjalin ranting

Sudah, sekali saja, tak usah resah
Nanti kita akan pulang mejemput bintang
yang dulu pernah dijanjikan malam

Di bawah kolong langit senja
Di bibir bukit sebelah tenggara
Di sana nanti kita akan bercerita
Tentang mimpi yang masih menerawang asa
Agar tak tercerabut dari pemiliknya, wahai jiwa

Bochum, 20 Februari 2012  


Mamak, Ibu Juara Satu Seluruh Dunia

Mamak, itu mungkin kata pertama yang bisa kuucapkan. Huruf ‘k’-nya itu tidak penuh, tidak seperti huruf ‘k’ dalam kata ‘banyak’ misalnya. Mamak adalah panggilanku untuk Ibuku, orang yang paling aku cintai. Dulu waktu aku masih kecil, kalau aku minta sesuatu pasti yang kupanggil Mamak, kalau aku sakit aku akan mengadu pada Mamak, kalau aku menangis yang kucari juga Mamak.

Mamakku adalah anak tertua dalam keluarganya. Jadi, dari kecil dia sangat mandiri. Mamak jarang bercerita tentang masa kecilnya, tapi adik-adiknya lah yang bercerita pada kami. Dari cerita-cerita paman-paman dan bibi-bibiku, aku bisa menangkap bahwa adik-adiknya begitu sayang dan bangga pada Beliau. Pernah sekali, Mamak bercerita padaku, “Mamak sangat sayang pada adik-adik Mamak, walau bagaimana pun keadaan mereka”. Mamak ingin agar aku pun menyayangi Abangku, sama seperti Beliau menyayangi adik-adiknya. 

Mamak adalah seorang pekerja keras. Selain bekerja sebagai pegawai negeri, dulu waktu aku masih kecil, sepulang kerja Mamak masih menyempatkan diri untuk berdagang, mulai dari usaha berjualan makanan, toko sembako, membuat kerajinan renda, dan macam-macam usaha lainnya. Kata Mamak, jadi pegawai negeri itu cuma makan gaji yang tidak seberapa, kalau mau lebih ya harus usaha sendiri, jangan korupsi, bahkan menjual harga diri dengan mengemis. Dulu, Mamak dinas di Departemen Perdagangan, lahan ‘basah’ sebenarnya, kalau tak punya malu, banyak yang merendahkan diri dengan mengemis kepada pengusaha atau korupsi dan kolusi disana sini, “Tak tahu malu!”, kata Mamak. Aku simpan baik-baik pesan moral tersebut hingga kini.

Mamak adalah tipe orang yang mengajarkan segala sesuatu dengan contoh tindakan nyata. Kata Mamak kalau hanya dengan mulut, pelajaran hanya sampai di telinga, tak akan meresap dalam alam bawah sadar kita. Kalau mau mempunyai anak yang rajin sedekah, orangtua juga harus rajin sedekah. Hubungan silaturahim dengan saudara dan handai taulan pun begitu juga. Sejak kecil aku memang sering diajak Mamak berkunjung ke rumah kaum kerabat kami, agar tak putus tali silaturahim walau sampai masa yang akan datang. Kalau memberi sesuatu kepada orang lain, jangan pernah diungkit-ungkit, dan berilah selalu bagian terbaik yang kita punya, biar Allah saja yang akan membalasnya.

Mamak bukan tipe orang yang ekspresif untuk mengungkapkan cintanya kepada kami, anak-anaknya. Dulu, waktu aku belum mengerti, aku sering heran, mengapa Ibu dari teman-temanku sering menciumi anak-anaknya, karena seingatku aku tak pernah diperlakukan begitu oleh Beliau. Kalau Mamak mengenangkan kisah yang sebenarnya menggugah rasa, ekspresinya datar saja. Lambat laun, aku pun jadi paham, Mamak bukannya tak sayang padaku kalau dia tidak menciumku ketika aku berangkat sekolah seperti kawan-kawanku dulu. Mamak punya cara sendiri, aku tahu. Mamak tak pernah mengungkapkannya dalam kata-kata, semisal: “Mamak sayang padamu”, atau “Mamak rindu”, tak pernah, meskipun dalam momen-momen perpisahan di keluarga kami. Mungkin aneh bagi sebagian orang, tapi itulah Mamakku.

Sekian lama aku menjadi anaknya, diam-diam aku menjadi lebih sensitif dengan kata-kata Mamak. Dulu, waktu aku tamat SMA dan akan segera merantau ke Bandung untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi, Mamak pernah bilang begini: “Coba ya kalau di sini itu ada sekolah yang bagus”, sudah hanya begitu saja kalimatnya. Aku paham, artinya kalau nanti ketika aku sudah merantau dan jauh dari Mamak, beliau pasti akan rindu. Pun, ketika aku akan merantau lebih jauh lagi, Mamak hanya bilang begini: “Sudah, seperti biasa saja lah, kamu pasti bisa”. Mamak juga tak pernah menangis di hadapan kami, sama seperti Mamo, sesedih apa pun itu. Paling hanya aku dan Abangku saja tukang menangis di rumah kami, dan itu pun sangat jarang sekali, kecuali waktu kami masih kecil dulu.

Mungkin, salah satu kebahagiaan menjadi orang tua adalah ketika Allah menganugerahkan lengkap anak laki-laki dan anak perempuan dalam sebuah keluarga. Kami hanya dua bersaudara, dan aku anak perempuan satu-satunya. Belasan tahun kemudian, ketika aku sudah dewasa, aku sering diliputi perasaan bersalah. Tak terbayang kecewanya Mamak ketika aku dulu tak pernah ingin memakai pakaian-pakaian yang beliau belikan, pakaian-pakaian cantik untuk anak perempuan. Aku juga tak pernah mau beliau dandani. Nasib pakaian-pakaian itu selalu berakhir di lemari sepupu-sepupu atau tetangga kami, ketika sampai tak cukup lagi untuk kupakai dan tak pernah sekali pun aku memakainya. Tapi, Mamak tak pernah menyerah, pakaian-pakaian itu selalu Beliau beli dengan harapan yang selalu sama, bertahun-tahun sampai aku tak ingat lagi berapa jumlahnya dan Mamak tak pernah mengeluh padaku. Maafkan aku, Mak.

Mamak punya cita-cita yang sederhana dan tidak muluk-muluk. Mamak tak pernah menyuruh kami untuk jadi ini itu. Kata Mamak, jadilah orang yang bermanfaat, dan kalau sudah memilih, harus bertanggung jawab dengan pilihan tersebut. Mungkin Mamak pernah berkeinginan seperti kawan-kawannya, punya anak perempuan yang merantau untuk sekolah, lalu pulang, mencari pekerjaan di sana, berkeluarga dan beberapa tahun kemudian menghadiahi masa tuanya dengan cucu-cucu yang lucu. Maafkan aku Mak, anakmu ini pemimpi gila, sampai sekarang pun masih kesana kemari tak tentu arah. Mamak hanya bilang begini: “Sudah, semua orang punya bagiannya masing-masing, kalau tak ada orang sepertimu, mungkin tak ada yang mau menjadi menteri dan mengurus macam-macam untuk negara kita ini”. Aku hanya diam, tak bisa berkata-kata lagi.

Mamak kini tak lagi muda. Sejak aku merantau, aku menjadi jarang bertemu Beliau. Pernah suatu sore ketika aku pulang, aku duduk-duduk berdua dengan Mamak. Mamak minta tolong dicarikan uban, aku diam dan ingin rasanya menangis, betapa sudah sangat jarang aku memperhatikan Beliau, tak terasa rambut Mamak sudah mulai memutih. Helai-helainya itu pasti tahu bagaimana perjuangan Mamak agar aku bisa sekolah, ironisnya agar aku bisa meninggalkannya, egois sekali, bukan?

Mamak, aku tahu pasti, ada cinta dalam setiap peluhmu, ada cinta dalam setiap marahmu, ada cinta dalam setiap diammu, ada cinta dalam setiap doamu. Dalam dinginnya sepertiga malam, selalu kau mohonkan doa terbaik untuk kami. Dalam diammu, sesungguhnya kau telah mengajarkanku agar tak pernah kalah dengan rasa rindu kepadamu. Karena sejauh apa pun aku berjalan, doamu akan selalu mengiringiku. Aku malu, belum bisa menjadi apa-apa untukmu, Mak. Kerjaku hanya bisa menyusahkanmu, dari dulu bahkan sejak aku masih dalam kandunganmu. Tak terhitung dosa yang sudah kuperbuat kepadamu, jangankan untuk menebusnya, untuk membalas jasamu pun aku tak akan pernah bisa, tak pernah, sampai mati pun. Ya Allah sayangilah Mamakku, berkahilah selalu usianya, berikanlah Beliau kesehatan, dan berikanlah kebahagiaan padanya di dunia dan akhirat-Mu kelak.

Di sini, matahari baru tenggelam, langit masih mendung, tapi aku tahu di atas sana pasti ada bintang. Kiranya, kerlipnya sampai ke rumah kami, 7000 mil dari tempatku berada saat ini. Sampaikan salam rinduku untuk Mamakku, walaupun beliau pasti sudah terlelap. Biarkan malam menghapus lelahmu, Mak.

Bochum, 18 Februari 2012.

Tulisan lain tentang Ayah dan Abang, 3 orang inilah, manusia-manusia terbaik dalam hidupku:


http://maktjik.blogspot.de/2012/11/mamo-ayah-juara-satu-seluruh-dunia.htmlhttp://maktjik.blogspot.de/2012/12/abangku-abang-juara-satu-seluruh-dunia.html

Kawan-Kawan Baru

Sebagian besar waktuku dalam tiga bulan pertama ini kujalani dengan membaca, membaca berulang-ulang, lembar demi lembar buku dan paper, lalu merangkum intisarinya untuk didiskusikan dengan pembimbingku. Usaha belajarku harus lebih keras dari sebelumnya, karena bidang yang harus kupelajari sekarang berbeda dengan latar belakang yang pernah kukerjakan dulu.

Kawan-kawan baruku harus kubaca sambil minum kopi, sambil menggigil kedinginan, sambil menunggu antrian, sambil melamun, sambil makan siang, sambil chatting, sambil diam, kadang-kadang sambil tersenyum, sambil memasak bahkan sambil tertidur. Aku membaca di kantor, di kereta, di kantin, di kamar, atau di dapur. Tapi kalau akhir pekan tiba, aku tak akan menyentuh selembar pun anything related to my research. Akhir pekan adalah waktunya istirahat, belanja kebutuhan pokok, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan para sahabat.

Rasanya aku akan mati bosan kalau tak pandai-pandai menyeling rutinitas monoton seperti ini. Sabar saja lah, aku sudah memilih, janjiku dalam tekad yang akan terus kugenggam erat-erat, bismillah! Seorang temanku pernah menulis: The most basic question every Ph.D. student must know the answer to is: "Why the hell am I doing this?" Hehe :D Semuanya membutuhkan proses, tak ada proses yang terus menerus berjalan mulus, begitu pun sebaliknya.

Cerita yang menungguku akan semakin seru, ku harap begitu. Ketika mesin-mesin mulai menderu, ketika program-program mulai “berlari”, akan tiba pula masa-masa dimana aku harus menulis, berkicau dalam forum-forum, atau sekedar begadang dalam malam-malam panjang ketika deadline-deadline menunggu untuk diselesaikan.

Aku ingin mengenal berupa-rupa manusia dari seluruh dunia, tapi kakiku baru mampu melangkah sampai di sini dulu. Ingin sekali aku menjelajah sampai ke negeri-negeri yang jauh, menjangkau sampai jantung budayanya. Biarlah mimpi itu kusimpan dulu, sembari memetik beragam pengalaman yang bisa kutemui di sini. Di sini tidak ada mata kuliah yang harus kuikuti, tugas utamaku adalah riset. Aku rindu duduk di dalam kelas, mendengarkan kuliah dengan penuh semangat atau sampai tertidur kala ngantuk mendera. Sudah lama rupanya, hampir 2 tahun yang lalu adalah kala terakhir aku duduk di atas bangku-bangku kayu, dalam kelas-kelas berjendela kaca.

Mimpiku untuk mengenal berupa-rupa manusia itu setidaknya sedikit terwujud di kelas baruku, kursus bahasa Jerman. 28 orang teman baru dari seluruh dunia, dengan ciri khas masing-masing. Raut muka, warna kulit, warna rambut, nama-nama yang khas, mereka mewakili berbagai ras dan budaya. Betapa aku langsung jatuh cinta berada di tengah-tengah pusaran budaya seperti ini, mengenal berbagai bahasa dari penutur aslinya. Kawan-kawan baruku berasal dari China, Korea, Pakistan, Nepal, Iran, Israel, Maroko, Elfenbeinküste (Pantai Gading), Turki, Perancis, Cyprus, Moldavia, Bulgaria, Rusia, Ukraina, Yunani, Spanyol, Mexico, Brazil dan Chile. Kadang-kadang kami harus menggunakan bahasa isyarat karena beberapa di antara kawanku tidak bisa berbahasa Inggris.

Aku bisa melihat begitu eratnya beberapa budaya berbeda diikat dengan bahasa yang sama. Di sisi lain, aku tak melihat adanya jarak yang memisahkan beberapa kawanku yang berasal dari negara-negara yang sebenarnya pernah atau bahkan masih berselisih. Dalam derai salju tipis pekan ini, di sini aku menemukan kedamaian dalam bentuk berbeda yang belum pernah kulihat sebelumnya, indah sekali, Kawan.

Bochum, 12 Februari 2012


Pagi Jingga

Hari masih teramat muda, pagi jingga
Ombak ingin memecah temaram bulan, menderu
Fajar, urung sudah...

Angin tiupkan wangi bunga
Kemuning serbuk akasia
Hembusnya hilang
Diam dalam bayang, gemuruh samudera...

Wangi pagi Januari
Ada elang dibawa angin
Mengejar perahu dari bibir muara, jembatan jingga...

Tungguku
Menemukanmu dalam hilang, dahulu...

 Zürich, 1 Januari  2012

Secangkir Kopi

Mendung mega di semburat mentari pagi
Kabut tipis masih mengawang
Merpati terbang labuh berebut remah-remah roti
Gerimis dalam angin beku, putih
Dalam gores-gores pena dari balik jendela
Inginku bercerita
Masih ingatkah engkau wangi kopi dalam cangkir motif bunga?

Zug, Switzerland, penghujung 2011


Harum Hujan Bulan November

Bandung sudah masuk musim penghujan. Musim ketika rintik-rintik air berjatuhan dari langit, satu per satu saling berkejaran. Ada lukisan keindahan di setiap goresnya, di pucuk-pucuk pepohonan, atap-atap bangunan, dan derai curahnya yang terbawa angin.

Jendela kaca di ruanganku kubiarkan terbuka lebar. Biar harum bau hujan bisa kuhirup dalam-dalam, biar angin dinginnya menusuk hingga ke tulang. Tak ada minuman hangat dan hingar bingar kendaraan. Yang ada hanya suara hujan dan sayup-sayup senandung tilawah Al Qur'an.

Sore ini adalah sore terindahku di kampus ini. Kampus yang telah menumpahkan warna-warninya dalam jiwaku. Rasanya baru kemarin, ketika dengan malu-malu aku berkenalan dengan kawan-kawan baru. Ketika lidah-lidah kami masih bau "kampung halaman". Sudah 7 tahun ternyata, dan waktu berlalu begitu cepat.

Di sini aku pernah bangga, pernah benci, pernah jenuh, pernah gembira, tapi pada detik ini aku sadar bahwa aku telah jatuh cinta. Jatuh cinta pada setiap proses yang kujalani sampai hari ini. Cinta dari keluarga, saudara, para guru dan kawan-kawanku tak pernah bisa kubalas sampai mati. Kepada harum hujan bulan November, kutitipkan maaf dan terima kasihku untuk mereka, mereka yang telah membuatku menjadi aku.

Bandung 3 November 2011


Mamo, Ayah Juara Satu Seluruh Dunia


Mamo, panggilan Ayah yang ”terpeleset” dari kata Ramo, dari mulut kecilku dan Abangku. Sejak aku bisa mengingat, Beliau adalah laki-laki pertama yang kukenal dalam hidupku. Hadiah pertama yang kuterima dari Ayahku adalah namaku ini, yang akan kubawa sampai mati.

Beliau pasti laki-laki yang merasa paling bahagia ketika kami, anak-anaknya, lahir ke dunia ini. Dulu waktu aku masih kecil, aku paling senang kalau Mamo menggendongku. Rasanya, cintanya hanya untukku saja. Tangan kecilku akan menjangkau dan menunjuk ke sana kemari atau meraba-raba wajahnya yang kasar karena belum bercukur. Mamo mengajariku untuk mencintainya dengan sederhana.

Sepeda motor pertama yang dimilikinya adalah Yamaha PX-80 warna merah, bukan baru. Selanjutnya sepeda motor Mamo berganti-ganti dan selalu bukan baru. Satu-satunya sepeda motor baru yang dimiliki Mamo adalah sepeda motor yang dipakainya sampai sekarang. Itu pun dibeli ketika Mamo baru saja pensiun, ketika aku lulus SMA. Mengapa? Karena memang itulah adanya yang beliau bisa. Mamo pegawai negeri yang jujur, hanya makan gaji, itu saja. Gaji yang diaturnya setiap bulan dengan sangat hati-hati untuk menafkahi keluarganya, untuk menyekolahkan anak-anaknya. Dari laki-laki pendiam ini aku belajar tentang kejujuran dan kesederhanaan.

Dulu waktu aku masih SD, SMP dan SMA aku beberapa kali mogok tak mau sekolah, ingin minta pindah. Mamo kerepotan ke sana kemari mengurus kepindahan sekolahku. Tetapi tak sekali pun kudengar keluhnya. Mamo mengajariku tentang jiwa besar, Beliau ingin aku sekolah di tempat terbaik dan paling membuatku betah. Beliau tak pernah menuntut apa pun dari anak-anaknya.

Ketika pertama kali aku bisa naik sepeda, aku merengek minta dibelikan sepeda baru. Mamo hanya memberiku sepeda bekas, phoenix warna merah, yang terus kuprotes karena cat-nya sudah jelek. Di kemudian hari aku mengerti mengapa Mamo baru membelikanku sepeda baru beberapa bulan setelahnya. Karena di bulan-bulan pertama aku masih sering jatuh, Mamo tak ingin aku lebih kecewa kalau sepeda baruku rusak karena belum bisa kukendarai dengan baik. Dari laki-laki disiplin ini aku belajar tentang kesabaran.

Dulu aku sering diajak Mamo ke rumah paman sepulang dari klinik gigi. Klinik yang paling kubenci ketika pertama kali gigiku dicabut. Namun setelahnya aku yang meminta sendiri untuk diantar ke sana. Mengapa? Karena Mamo tak pernah bohong, “tidak sakit! Percayalah!” Pulangnya aku akan bertemu paman, mendengarkan obrolan mereka berdua tentang kakek. Mamo mengajarkanku tentang indahnya silaturahim. 

Waktu aku masih kecil, Mamo jarang marah kalau aku nakal, tapi Beliau paling marah kalau aku dan Abang bertengkar. Mamo mengajariku bagaimana mencintai saudaraku satu-satunya, Abang yang akan kubanggakan sampai mati. Mamo tak pernah menangis di depan kami, sesedih apa pun, sesakit apa pun, sesusah apa pun, tak pernah sekali pun kulihat Mamo menangis. Mamo mengajarkanku tentang ketegaran agar aku tak cengeng menjalani hidup ini.

Cinta Ayahku tak pernah habis-habis untuk kami. Aku tak bisa memilih siapa yang menjadi Ayahku. Tapi sekali pun aku tak pernah menyesal telah menjadi anaknya. Mamo adalah Ayah yang kucintai seumur hidupku. Sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa membalas jasanya. Dalam hatiku tertulis sejuta kenangan tentang Ayahku, salam rinduku untuknya, harum kasih sayangnya kan ku bawa sampai mati.

Bandung, 18 Oktober 2011
Photo illustration by Ponda Sujadi

Tulisan lain tentang Ibu dan Abang, 3 orang inilah, manusia-manusia terbaik dalam hidupku:
http://maktjik.blogspot.de/2012/11/mamak-ibu-juara-satu-seluruh-dunia.html
http://maktjik.blogspot.de/2012/12/abangku-abang-juara-satu-seluruh-dunia.html